Langsung ke konten utama

Kantung mata

Kembali bersama malam,
Sudah bosan kah kau hari ini?
Menjalani aktifitas rutin
Yang tak sama sekali mengajakmu untuk berdamai diri.

Kau terbangun dari mimpi
Ketika pagi hari
Demi sebuah rutinitas yang harus dikerjai
Katanya untuk 'kehidupan yang abadi'.

Siang hari ketika waktu luang
Hanya untuk makan dan sembahyang
Lalu kembali melihat si tugas kesayangan
Yang berada tak jauh untuk di pandang

Bersiap dengan buru - buru untuk pulang
Dengan wajah yang begitu senang
'Akhirnya aku pulang',
Walau malam berteman kunang.

Begitu membosankan,
Membingungkan,
Menyedihkan,
Bahkan sangat disayangkan,
Namun semua itu harus di nikmati bukan?

Terpikir dibenak ingin lari dari kenyataan
Namun apa daya,
Kantung mata terus memejam,
Tanda ingin diamkan tubuh di sebuah dinginnya malam,
.
.
Biarkan semuanya terasa menyebalkan,
Hingga dunia terasa nyaman,
Kembali.

-nvrzaa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Setengah Sadar

Hidupkanlah  hati kami Tingkatkanlah sabar kami Jika saja yang berada dibumi, akan pergi dan tak kembali. Kumpulkanlah tenaga setelah terkuras habis air mata Jika saja hujan bisa menghapus semua Sesal mungkin takkan pernah ada. -nvrzaa

Berat

Ternyata,  komitmen itu berat Sangat erat Sedikit kau kotori,  ia mudah berkarat "Komitmen itu amanat" Ia sebuah nazar yang suci Hanya bisa dicapai oleh sang ahli Barangkali, Salah satu dari kita melukai Merunduklah dan memperbaiki Sekali lagi, Merunduklah, Ucapkan tekad untuk tak ulangi. Sebab Hati, mudah tersakiti. -nvrzaa

Terisak

Oh tidakkk!!! Air itu pecah mengguyur seluruh wajah. Hatinya berdebar kencang tanpa dapat di kondisikan. Sesak seperti tak ada kesempatan bernapas kembali. Jika saja sebuah rasa bisa mati sampai akarnya, mungkin peristiwa diatas tidak dapat menyerang kembali. Tubuh terguyur lemas tanpa harap melihat kembali atas apa yang telah terjadi.  dengan sigap mengambil air wudhu lalu beribadah bersujud pada sang pemilik hati. Bagaimana bisa selemah ini hati dikecilkan, pandangan membuyar membasahi pakian yang dikenakan. Bersedu sambil berkata "sesungguhnya engkaulah Maha Pemilik Hati, maka jagalah hati ini jangan lagi hancur kembali".